oleh

Kejari Tanjab Barat Mulai Serius Dalami Kasus Pamsimas Desa Teluk Kulbi

-Tanjab Barat-35 KALI DIBACA

TANJABBAR//BULENONnews.com// Kejaksaan Negri (Kejari) Tanjung Jabung Barat (Tanjabar) mulai serius menangani kasus Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat Desa Teluk Kulbi.

Buktinya, Kejaksaan Negeri Tanjab Barat telah memanggil Mantan Kepala Desa (Kades) Desa Teluk Kulbi, Kecamatan Betara terkait kasus Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas III), Senin (22/6/2020).

Informasi yang di himpun pemanggilan itu dilakukan sejak pukul 09.00 wib di Kejari Tanjabbar. Pemanggilan mantan kades tersebut dilakukan untuk meminta sejumlah berkas dari desa terkait dengan Pamsimas yang di laporkan kejaksaan.

Sebelumnya, Mantan kades Ini juga pernah datang ke Kejari Tanjabar namun di tolak karena pihak kejaksaan tidak ada melakukan pemanggilan.

Terkait dengan pemanggilan Mantan Kades Teluk Kulbi itu, Kasi Intel Kejari Tanjabar Arnold Saputra mengatakan pihaknya melakukan pemanggilan itu untuk meminta sejumlah dokumen dan data dalam kasus ini.

“Masih minta data nya dulu,
Belum diserahkan kelengkapan data nya,”Katanya.

Menurutnya, data yang ada saat ini belum lengkap. Sehingga pemanggilan ini diharapkan dapat melengkapi datanya dan bisa di tindak lanjuti.

“Nanti setelah data lengkap baru di lanjutkan,”Ujarnya.

Arnold menyebutkan jika mantan kades yang di panggil itu merupakan yang menjabat saat Pamsimas berjalan.

“Mantan kades Widodo,”Sebutnya.

Berkas itu nantinya digunakan untuk puldata baru selanjutnya bisa dinaikan ke pulbaket.

“Untuk puldata sementara kita minta untuk menyerahkan kelengkapan berkas dari pihak pihak terkait,”Ucapnya.

Terkait mantan kepala desa itu juga akan diminta klarifikasi terkait dengan laporan masyarakat yang masuk itu. Arnold menegaskan pihaknya belum klarifikasi.

“Klarifikasi nya belum, Masih puldata biar lengkap utk lanjut,”Pungkasnya.

Sebelumnya pihak kejaksaan menerima laporan dari masyarakat terkait dugaan korupsi dana Pamsimas yang mencapai Rp 240 juta yang bersumber dari Dana Asian Development Bank (ADB) itu diduga bermasalah sebab air di lokasi tersebut sempat tidak mengalir.

Reporter/Editor: Amir/Ote

Komentar

Berita Sebelumnya