ISPU Capai Kategori Sangat Berbahaya (463), SMSI Tanjab Barat Bersama Dinkes & SBH Turun ke Jalan Bagikan Masker Satu-satunya Wakil Sumatra! SMAN 1 Tanjab Barat Terbangkan Kontingen Pramuka ke Kemah Wukuf Nasional Ketua DPRD Hamdani Bacakan Ikrar Hari Kesaktian Pancasila, Teguhkan Komitmen Kebangsaan Wabup Katamso Dorong Jargas 6.811 SR Segera Mengalir, Usulkan Tambahan 19.750 Sambungan Mardan Hasibuan Sah Pimpin IBCA MMA Tanjabbar lewat Aklamasi, Siap Lahirkan Petarung Berprestasi

Home / Pemerintahan

Kamis, 23 Juli 2026 - 17:29 WIB

Kebijakan Surat Harga Pasar Tanah Tuai Keberatan, Bapenda Tanjab Barat Tegaskan: Bukan Syarat Mutlak, Tidak Ada Paksaan

TANJAB BARAT, BULENON NEWS.COM – Kebijakan yang dikeluarkan Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Tanjung Jabung Barat terkait penyampaian informasi persyaratan pengurusan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) memicu diskusi di kalangan aparatur pemerintahan tingkat bawah. Surat bernomor 900.1.13.1/198/BAPENDA/VII/SRK/2026 tertanggal 3 Juli 2026 yang meminta camat menyampaikan instruksi kepada kepala desa dan lurah terkait penerbitan Surat Keterangan Harga Pasar Tanah, justru menuai keberatan.

Sejumlah aparatur di tingkat kecamatan, kelurahan, hingga desa menilai langkah ini berpotensi menambah beban administrasi sekaligus memunculkan persoalan baru apabila terjadi perbedaan penilaian nilai tanah di lapangan. Salah seorang lurah di wilayah Tanjung Jabung Barat yang dikonfirmasi menyatakan penetapan nilai tanah memiliki aspek teknis perpajakan yang tidak bisa disamaratakan dengan penilaian umum.

“Perhitungan pajak itu memiliki aturan teknis yang harus dipahami terlebih dahulu. Ini berkaitan erat dengan Nilai Jual Objek Pajak atau NJOP, luas lahan, serta peraturan perundangan yang berlaku. Tidak bisa hanya melihat harga yang beredar di masyarakat saja,” ujarnya.

Ia pun mengkhawatirkan jika nilai yang tercantum terlalu tinggi, maka beban pajak yang harus ditanggung masyarakat otomatis ikut naik. Hal ini dikhawatirkan akan memicu keluhan yang justru dibebankan kepada aparatur kelurahan atau desa, padahal penetapan dasar pajak adalah ranah instansi teknis yang berwenang.

Baca Juga  Bupati Tanjab Barat Terima Kunjungan Audiensi PPL, HMI, dan PC PMII Tanjab Barat

“Selama ini saja warga sudah sering mengeluh soal besaran pajak. Kalau kami diminta mencantumkan nilai pasar, takutnya justru menimbulkan kesalahpahaman dan masalah baru di tengah masyarakat,” tambahnya.

Merespons gelombang keberatan tersebut, Kepala Bapenda Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Sugianto, SE, memberikan penjelasan tegas bahwa pencantuman harga pasar dalam surat keterangan tersebut bukanlah syarat mutlak dan tidak bersifat wajib.

“Kami tidak pernah memaksakan lurah atau kepala desa untuk menetapkan harga. Kalau bersedia mengisi silakan, jika tidak diisi pun proses pengurusan BPHTB tetap berjalan lancar. Itu bukan syarat wajib,” tegas Sugianto.

Ia menjelaskan, data harga pasar yang dimaksud hanya berfungsi sebagai bahan pembanding bagi tim survei Bapenda saat melakukan pengecekan langsung ke lokasi. Penetapan nilai yang menjadi dasar perhitungan pajak tetap merujuk pada hasil verifikasi resmi dan ketentuan NJOP yang sudah berlaku.

Baca Juga  Sekda Hermansyah Letakkan Batu Pertama Pembangunan Mushola SMKN 1 Tanjab Barat, Wujudkan Generasi Cerdas dan Berakhlak

“Tim kami pasti turun ke lapangan untuk memastikan kesesuaian nilai transaksi dengan kondisi nyata. Jika hasil survei berbeda dengan data yang ada, maka yang berlaku adalah hasil pengecekan tim kami. Kami sama sekali tidak menjadikan surat keterangan itu sebagai dasar penetapan NJOP,” jelasnya.

Lebih lanjut, tujuan utama kebijakan ini adalah agar perangkat desa dan kelurahan lebih cepat mengetahui adanya perpindahan hak atas tanah atau bangunan. Hal ini bertujuan agar administrasi Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dapat segera diperbarui, sehingga tidak lagi terjadi pengiriman Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT) kepada pemilik lama yang sudah tidak memiliki hak atas tanah tersebut.

“Sering terjadi transaksi jual beli tanah namun tidak tercatat di tingkat kelurahan atau desa, sehingga data PBB masih tertinggal pada nama pemilik lama. Melalui kebijakan ini, kami ingin administrasi kependudukan dan pertanahan menjadi lebih tertib dan akurat. Sekali lagi, tidak ada unsur paksaan dan ini sama sekali bukan untuk membebani aparatur desa maupun kelurahan,” pungkas Sugianto.

Share :

Baca Juga

Pemerintahan

Bupati Anwar Sadat Hadiri Paripurna Ke Tiga

Pemerintahan

Hadiri Pra Penilaian Kinerja Provinsi Jambi,Wabup Tanjab Barat Paparkan Strategi Penurunan Stunting

Pemerintahan

Bupati dan Wakil Bupati Jenguk Sekda Tanjab Barat di RSUD Raden Mattaher

Pemerintahan

Peringatan Hari Santri 2025 di Tanjung Jabung Barat: Bupati Ajak 1.650 Santri “Berilmu, Berakhlak, dan Berdaya”

Pemerintahan

Gerak Cepat Bupati Tanjab Barat: Dari Bantuan Pangan Hingga Urusan Dokumen untuk Korban Kebakaran Jati Mas

Pemerintahan

Pemkab Tanjab Barat Peringati Hari Santri Nasional

Pemerintahan

BKPSDM Tanjab Barat Gelar Bimtek Pengelola Pengaduan Pelayanan Publik Tahun 2025

Pemerintahan

Safari Subuh Bupati Anwar Sadat: ‘Tujuan Pelebaran Jalan Agar Nyaman Dilalui Masyarakat’

You cannot copy content of this page