BANGKO-BULENONNEWS.COM. Lagi-lagi para Lanjut Usia (Lansia) Kecamatan Pamenang Barat Kabupaten Merangin diwisuda oleh Pemerintah Kabupaten Merangin.
Wisuda Para Lansia kali ini langsung dilakukan Bupati Merangin M Syukur, didampingi Ketua TP PKK Ny Lativa Syukur, di gedung serbaguna Desa Pinang Merangin Provinsi Jambi, Selasa pagi (27/1).
Cahaya mentari belum sepenuhnya menyinsing, Namun kehadiran peserta wisudawan-wisudawati sudah riuh memadati lokasi acara. Selain itu aroma minyak kayu putih dan tawa yang renyah membuat sumringah para Wisudawan-wisudawati.
Hal tak biasa di sudut ruangan menjadi catatan sejarah, karena tangan-tangan keriput Saniem sibuk merapikan jubah hitam licin.
Betapa tidak, di usianya yang ke-92, jubah itu terasa sedikit kebesaran di tubuh mungilnya. Namun, saat ia menyentuh kain itu, terlihat air mengalir disudut mata katarak tipisnya.
Itulah mengapa, setiap kali jadwal kelas Sekolah Lansia Tangguh (Selantang) tiba, Mbah Saniem akan bersiap dengan semangat yang melampaui fisiknya. Langkah kakinya memang tak lagi sigap, sedikit menyeret dan gemetar, namun semangatnya tak pernah pudar.
Baginya, Selantang bukan sekadar tempat mendengarkan penyuluhan kesehatan atau materi dari para ahli. Sekolah itu adalah tempat ia kembali merasa “ada”.
Di sana, ia bertemu kawan lama, bertukar cerita tentang cucu, dan tertawa bersama tentang hal-hal kecil. Di sekolah itu, Mbah Saniem sedang merayakan hidup.
Puncak dari perjalanan itu terjadi hari ini. Saat namanya dipanggil, seisi ruangan seolah menahan napas. Mbah Saniem bukan hadir sebagai wali untuk cicitnya. Ia adalah sang bintang utama.
Bupati Merangin, M. Syukur, melangkah mendekat. Ada raut haru yang tak bisa disembunyikan oleh sang pejabat saat menatap sosok di depannya.
Di sampingnya, Ibu Lavita Syukur dan Ibu Sri Rizky tampak berkaca-kaca melihat keteguhan itu. Saat toga disematkan dan piagam berpindah tangan, tepuk tangan pecah memenuhi ruangan.
“Inilah definisi belajar tak mengenal usia yang sesungguhnya,” ujar Bupati dengan nada yang bergetar bangga. “Mbah Saniem mengajarkan kita bahwa pendidikan tidak memiliki tanggal kedaluwarsa.”
Saat prosesi berakhir, Mbah Saniem melangkah keluar aula dengan ijazah di pelukannya. Bagi orang lain, itu mungkin hanya selembar kertas. Namun bagi Mbah Saniem, itu adalah bukti kemenangan—kemenangan atas rasa jenuh, kemenangan atas usia, dan kemenangan atas kesepian.
Ia pulang menuju bukan sebagai seorang nenek tua. Ia pulang sebagai seorang wisudawati. Ia membuktikan bahwa selama napas masih berhembus, ruang kelas akan selalu terbuka bagi siapa saja yang hatinya masih ingin belajar.
Di usia hampir satu abad, Mbah Saniem baru saja menuliskan babak baru dalam hidupnya: bahwa menjadi tua bukanlah akhir, melainkan hanya cara lain untuk terus bersinar. (Ote)
Sumber : Kominfo Merangin.









