ISPU Capai Kategori Sangat Berbahaya (463), SMSI Tanjab Barat Bersama Dinkes & SBH Turun ke Jalan Bagikan Masker Satu-satunya Wakil Sumatra! SMAN 1 Tanjab Barat Terbangkan Kontingen Pramuka ke Kemah Wukuf Nasional Ketua DPRD Hamdani Bacakan Ikrar Hari Kesaktian Pancasila, Teguhkan Komitmen Kebangsaan Wabup Katamso Dorong Jargas 6.811 SR Segera Mengalir, Usulkan Tambahan 19.750 Sambungan Mardan Hasibuan Sah Pimpin IBCA MMA Tanjabbar lewat Aklamasi, Siap Lahirkan Petarung Berprestasi

Home / Meraingin

Jumat, 1 Agustus 2025 - 00:12 WIB

Wali Murid SMPN 4 Merangin Keluhkan Beratnya Biaya Seragam Rp1,6 Juta

{

{"data":{"pictureId":"efdd4997a7934d09b214007ead61018d","appversion":"0.0.1","stickerId":"","filterId":"","infoStickerId":"","imageEffectId":"","playId":"","activityName":"","os":"android","product":"lv","exportType":"image_export","editType":"image_edit","alias":""},"source_type":"vicut","tiktok_developers_3p_anchor_params":"{"source_type":"vicut","client_key":"aw889s25wozf8s7e","picture_template_id":"","capability_name":"retouch_edit_tool"}"}

“Sekolah Negeri, Tapi Seragam Rasa Swasta”

BANGKO-BULENONNEWS.COM. Tahun ajaran baru seharusnya menjadi momen semangat baru bagi para siswa dan orang tua. Namun tidak demikian halnya bagi sebagian wali murid SMP Negeri 4 Merangin. Pasalnya, biaya seragam yang mencapai Rp1.600.000 per siswa dikeluhkan memberatkan, apalagi tanpa adanya opsi harga atau penyedia yang lebih fleksibel.

Seorang wali murid yang enggan disebutkan namanya angkat bicara soal dugaan komersialisasi seragam.

“Katanya sekolah negeri, tapi kenapa seragam harus segitu mahal? Kami orang kecil bang, kalau disuruh bayar cash Rp1,6 juta, kami kelimpungan. Kalau beli sendiri bisa jauh lebih murah,” ujarnya dengan nada kesal.

Menurutnya, ada kesan pemaksaan halus karena semua orang tua diarahkan ke penjahit yang ditunjuk pihak sekolah.

“Katanya sih boleh jahit di luar, tapi faktanya semua tetap diarahkan ke satu tukang jahit. Masa tiap tahun penjahitnya itu-itu saja? Logikanya, pasti ada sesuatu,” tambahnya.

Sementara, Kepala SMP Negeri 4 Merangin, Siska Yuliasari, mengonfirmasi bahwa nominal Rp1,6 juta tersebut memang untuk pembelian seragam siswa baru.

Baca Juga  Kabar Gembira!! Merangin Bakal  Menerima CPNS 2024

“Itu cuma biaya baju. Dibayar langsung ke penjahit, bukan ke sekolah,” jelasnya saat diwawancara.

Ia merinci seragam yang termasuk dalam paket tersebut antara lain seragam putih biru, pramuka, olahraga, batik, baju muslim, dan tambahan vest untuk keperluan kegiatan sekolah di luar.

Meski menyatakan tidak ada unsur pemaksaan, Siska mengakui bahwa penjahit memang ditunjuk oleh pihak sekolah.

“Sudah dari tahun ke tahun kami tunjuk penjahit yang sama. Tapi kalau ada siswa yang sudah punya seragam lama atau ingin jahit sendiri, ya silakan saja,” ujarnya.

Sekolah atau Sentra Bisnis Seragam?

DIKETAHUI, tahun ini SMPN 4 Merangin menerima 352 siswa baru dan 3 siswa pindahan. Jika semua membayar biaya seragam yang sama, maka potensi perputaran uang dari sektor ini bisa mencapai hampir Rp600 juta rupiah hanya dalam satu tahun ajaran.

Baca Juga  Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1442 Di Masjid Jami' Dusun Bangko Begitu Khidmad

Publik pun mulai mempertanyakan transparansi dan urgensi pengadaan seragam dalam jumlah dan model sebanyak itu, termasuk vest yang belum tentu relevan untuk semua siswa. Apalagi, dalam kondisi ekonomi masyarakat yang sedang goyang secara tidak sengaja terdampak efesiensi anggaran. Beban biaya pendidikan seperti ini menambah tekanan tersendiri.

Dinas Pendidikan Harus Turun Tangan

SEJUMLAH pemerhati pendidikan dan sosial mendesak Dinas Pendidikan Merangin untuk segera turun tangan. Mereka menilai, pembiaran terhadap pungutan-pungutan seperti ini bisa menimbulkan ketimpangan sosial dalam akses pendidikan.

“Sekolah negeri bukan tempat bisnis, dan seragam bukan ladang cuan. Pemerintah harus segera bertindak agar pendidikan tetap inklusif dan terjangkau untuk semua,” ujar Ali, aktivis muda Merangin.

Di tengah semangat pendidikan gratis, mahalnya seragam sekolah kembali menunjukkan bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan agar dunia pendidikan tak berubah menjadi pasar bebas yang hanya berpihak pada mereka yang mampu. (Ote).

Share :

Baca Juga

Meraingin

Perdana H. Mashuri Gelar Rapat Soal PETI di Merangin

Meraingin

Dengan Bimtek CPPOB IRTP Dinkes Merangin Diharapkan Dapat Meningkatkan Ekonomi Masyarakat

Meraingin

Sebanyak 34 Pedagang Kantin PKK Direlokasi

Meraingin

Hearing Komisi ll DPRD Merangin Bersama Dikbud dan BKPSDM Penuh Rasa Haru

Meraingin

Wakil Bupati  Buka Rapat Forum Komunikasi Publik Rancangan RPD Merangin 2024-2026

Meraingin

Kafilah Merangin Tampil Memukau Saat Pembukaan MTQ ke-51 Provinsi Jambi di Sei. Penuh

Meraingin

Nilwan Yahya Apresiasi MSC Ikuti Kontes Vespa Kajanglako XI di Sabak

Meraingin

Kementerian LHK Support Pemkab Merangin Usulkan Geopark Naik Status UGG

You cannot copy content of this page