Reses di Desa Rawa Medang, Hamdani Tampung Aspirasi Masyarakat Hamdani Reses di Desa Sepakat Tungkal Ulu  Bupati Anwar Sadat Lantik Pejabat Eselon II  dan III  Kodim 0419/Tanjab Gelar Upacara Ziarah Nasional di TMP Yudha Satria Pengabuan DPRD Tanjab Barat Gelar Rapat Paripurna Ketiga Pembahasan Rancangan Perda

Home / Tanjab Barat

Rabu, 10 Agustus 2022 - 06:46 WIB

Aliansi Perempuan Berdaya Tanjab Barat Gelar Diskusi Terkait Begal Payudara

TANJABBARAT,BULENONNEWS.COM – Aliansi Perempuan Berdaya Kuala Tungkal menyelenggarakan diskusi terkait maraknya kasus begal payudara yang terjadi di Kuala Tungkal pada 6 Agustus 2022 kemarin.

Diskusi ini deselenggaran oleh Specialpreneur, Kuala Inspirasi, dan Komunitas Peduli Perempuan. Diskusi pada malam minggu itu menghadirkan pemateri diantaranya Novil Cut Nizar, sekorang Psikolog Klinis. Elvita, pemuda pemerhati isu sosial dan perempuan yang juga sebagai Penasihat Muda di Yayasan Plan International Indonesia. Juliyani Purnama Ramli, seorang praktisi hukum. Dan Misna, ketua Komunitas Peduli Perempuan Tanjab Barat.

Diskusi tersebut juga dihadiri oleh Kasat Reskrim Polres Tanjab barat, IPTU Septi, dan Ketua komisi II DPRD Tanjab Barat, Suprayogi Saipul, Ketua KNPI Tanjab Barat, dan puluhan komunitas kepemudaan lainnya. Diskusi dimoderatori oleh Dwi Tri Ardila (Kuala Inspirasi).

Saat diskusi berlangsung salah satu pemateri Elvita menyampaikan bahwa fenomena begal payudara hanya satu bentuk kekerasan seksual. Fenomena yang marak ini mesti dimanfaatkan untuk membuka ruang diskusi dan refleksi dan menggali berbagai pandangan terkait perlindungan perempuan. “Ini bisa jadi fenomena gunung es, sebulan terakhir korban ada 10 yang berani speak up. Bisa jadi lebih banyak korban yang ada tapi tidak pernah mau melapor apalagi cerita, dan bertahun lalu kejadiannya sudah ada. Sebab, dalam kasus kekerasan seksual bahkan dalam kasus begal payudara ini yang cenderung selalu akan disalahkan adalah korban.” Ucapnya.

“Atensi masyarakat yang menyepelekan  menunjukkan keadaan masyarakat yang menganggap bahwa perempuan ‘layak’ untuk dielcehkan sehingga ketika kasus terjadi dianggap ‘ya sudahlah’. Pelaku meski diadili dan mesti ada upaya sistemik untuk membidik akar permasalahan pelecehan seksual ini. Jika tidak pelaku bisa saja bertambah jika melihat hukum tidak bekerja.  ” Sambungnya.

Baca Juga  Kodim 0419/Tanjab Sosialisasi Mekanisme Masuk TNI-AD 

Sementara pemateri selanjutnya Novil Cut Nizar menyampaikan bahwa kita mesti menjadi pelopor dan pelapor. Setiap yang hadir di isini bisa menjadi perpanjangan tangan agar peduli terhadap kesehatan mental dan pelecehan seksual. Novil meluruskan stigma yang keliru di masyarakat terhadap korban yang trauma.

“Biasanya korban tidak akan langsung trauma, itu ada diagnosanya apakah dia trauma atau depresi. Biasanya siklus awal korban akan merasakan sedih, marah, malu, dan perasaan-perasaan yang berkecamuk. Bukan langsung trauma.”ungkapnya.

Novil Cut Nizar menyampaikan bagaimana prilaku pelaku untuk Tidak menjadi pelaku, dan memberikan tips bagaimana menghadapi jika ada teman yang bercerita menjadi korban.

“Jangan tanyakan, kamu diapakan, dimana” Tapi biarkan dulu dia tenang, jika menangis biarkan dulu. Setelah cukup tenang baru tanya, “apa yang ingin kamu ceritakan”. Ujarnya.

Juliyani, seorang praktisi hukum di Kominfo yang juga telah menempuh S2 nya di Universitas Indonesia menjelaskan istilah begal payudara tidak ada dalam hukum. Hukum mengenal istilah pelecehan seksual dan kekerasan seksual secara hukum pelaku bisa dijerat dengan KUHP pasal 281-303 dengan kesusilaan.

“Dan saat ini sudah ada UU TPKS yang baru disahkan. Juliyani juga menyampaikan bahwa sebenarnya istilah begal payudara ini bias gender. Kekerasan seksual termasuk dalam delik aduan, sehingga mesti ada yang melapor terlebih dahulu baru bisa diusut.” Ungkapnya.

Baca Juga  Bupati Ingatkan ASN dan Honorer Jaga Netralitas Dalam Pilkada

Sementara itu Misna, selaku ketua komunitas peduli perempuan menyampaikan bahwa kehadiran komunitasnya bisa menjadi tempat korban untuk bercerita dan mereka bisa membantu menyambungkan ke akses bantuan psikologis maupun membuat laporan ke polisi melalui DP3AP2KB Tanjab Barat.

“Jadi ga perlu takut dan ragu lagi. Mungkin kalau jadi korban malu atau takut mau lapor ke polisi atau ke psikolog, kami bisa bantu temani.” Ungkapnya.

Diskusi tersebut mendapat perhatian langsung dari pihak kepolisian tanjung Jabung barat yang disampaikan langsung kasat Reskrim Polres Tanjab Barat, IPTU Septia Intan Putri, STK, SIK yang juga turut memberikan tanggapan. IPTU Septi menyampaikan bahwa Polres selalu siap untuk menerima laporan. Adanya komunitas perempuan yang aktif juga akan membantu Polres untuk bisa mendapatkan informasi lebih atau terkendala mendapatkan keterangan korban.

“Segala laporan yang dilakukan baik oleh korban maupun saksi akan dijaga kerahasiaannya, sehingga apabila mengalami pelecehan seksual tidak perlu takut melapor. Semakin banyak yang melapor maka semakin cepat kepolisian bisa bergerak. Laporan terkait kasus begal payudara yang masuk saat ini sedang dalam tahap penyelidikan.” Ucapnya.

Hasil diskusi ni nantinya akan dijadikan surat terbuka yang berisi keresahan dan rekomendasi untuk dikirimkan kepada Bupati Tanjab Barat. Acara ditutup dengan seluruh peserta dan tamu undangan menandatangani petisi Tungkal Bebas Kekerasan Seksual.*

 

 

Penulis/Editor: Amir/Otte

Share :

Baca Juga

Tanjab Barat

Perhari RSUD KH Daud Arif Kuala Tungkal Membutuhkan 50 Tabung Oksigen

Tanjab Barat

Jelang Nataru,Uang Palsu Beredar Di Tanjabbarat

Tanjab Barat

Hasil Pers Confrens Atas Terduga Pelaku Pencabulan Siswi Salah Satu SMA Di Palembang Di Amankan DiMapolres Tanjabbarat

Tanjab Barat

Dirut PDAM Tanggapi Keluhan Masyarakat Terkait Limbah

Tanjab Barat

Dandim 0419/Tanjab Serahkan Penghargaan Pangdam Il Sriwijaya Kepada Bupati Tanjabbar

Tanjab Barat

WFC Kuala Tungkal Dibuka Kembali

Tanjab Barat

Polres Lakukan Rapid Tes di Dua Lokasi di Betara

Tanjab Barat

Kesadaran Pembayaran Pajak Di Dinas Pemkab Tanjabbarat Rendah